Sambangdesa.com - Seiring dengan perkembangan zaman, istilah yang menggambarkan manusia pun mengalami evolusi. Aristoteles dan Boetius mengidentifikasi manusia sebagai "animal rationale," sementara Carolus Linnaeus menyebutnya "homo sapiens." Kini, Rafael Capuro, seorang filsuf teknologi asal Jerman, memperkenalkan istilah baru "homo digitalis.Istilah ini menjadi judul buku yang ditulisnya delapan tahun lalu, pada tahun 2017, dan menggambarkan hubungan manusia dengan dunia digital yang semakin erat.
Capuro memilih label "homo digitalis" untuk menekankan bahwa pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari manusia modern. Saat ini, keberadaan manusia sering kali diidentikkan dengan penggunaan perangkat digital atau gawai. Rutinitas harian menunjukkan bahwa gawai menjadi hal pertama yang diakses saat bangun tidur, saat makan, bahkan menjelang tidur. Hal ini menciptakan identifikasi eksistensi manusia yang semakin lekat dengan penggunaan gawai.
Di era digital, ungkapan René Descartes "Cogito, ergo sum" (Aku berpikir, maka aku ada) seolah bergeser menjadi "Premeo, ergo sum" (Aku mengklik, maka aku ada). Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan manusia saat ini lebih diukur berdasarkan interaksi dengan teknologi daripada kemampuan berpikir atau refleksi kritis.
Dalam rangka merespons fenomena ini, Franky Budi Hardiman, seorang guru besar filsafat, menulis buku berjudul "Aku Klik, Maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital" pada tahun 2022. Dalam karyanya, Hardiman mengidentifikasi beberapa ciri kehidupan manusia digital, antara lain:
- Lebih menghidupi dunia layar ketimbang dunia nyata.
- Memilih "browsing" alih-alih berpikir kritis.
- Menomorsatukan kebohongan dibandingkan kebenaran.
- Mengedepankan kepalsuan di atas keaslian.
- Menghindar dari tanggung jawab dengan berlindung di balik anonimitas.
Pertanyaan kunci yang muncul adalah, apa yang salah dalam penggunaan teknologi? Seperti yang ditegaskan oleh Martin Heidegger, alat apapun pada dasarnya bersifat netral. Yang menjadi penting adalah tujuan dan dampak dari penggunaannya. Menolak teknologi berarti hidup di luar realitas.
Hardiman mengingatkan kita untuk tidak menjadi "budak digital" dan agar tetap mempertahankan nilai diri. Dalam memanfaatkan teknologi digital, diperlukan sikap kritis dan kesadaran agar tidak terjebak dalam kecerdikan negatif dari teknologi. Dengan pendekatan yang bijak, teknologi dapat menjadi alat yang mendukung kualitas hidup yang lebih baik.
Menyongsong masa depan, mari kita manfaatkan gawai dan teknologi untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Dengan kesadaran dan kebijaksanaan, kita bisa menjadikan dunia digital sebagai sarana untuk memperkaya pengalaman hidup.
Social Footer