Breaking News

Festival Lampu Colok Rayakan Tradisi Ramadhan

Festival Lampu Colok Rayakan Tradisi Ramadhan
Sambangdesa.com / Bengkalis - Desa Simpang Padang, Duri, Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, kembali menggelar Festival Lampu Colok menjelang akhir Ramadhan. Festival tahunan ini berlangsung mulai malam ke-27 Ramadhan hingga malam takbiran, menjadi momentum penting dalam pelestarian budaya lokal yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Ketua Pelaksana Festival, Maulana Mahi Hendra, menjelaskan bahwa tujuan utama penyelenggaraan Festival Lampu Colok adalah untuk melestarikan tradisi yang sudah ada sejak lama.

“Bentuk lampu colok ini berbeda-beda setiap tahunnya, tidak ada patokan khusus,” ungkapnya dalam wawancara dengan wartawan suarakampus.com.

Festival ini dilaksanakan pada Sabtu (29/3/2025), di Desa Simpang Padang, yang menjadi tuan rumah bagi tradisi yang kaya akan nilai budaya ini.

Maulana menekankan pentingnya melestarikan tradisi ini di tengah arus modernisasi, di mana banyak orang beralih menggunakan lampu LED. “Tradisi ini harus dilestarikan secara utuh,” harapnya.

Pembuatan lampu colok melibatkan bahan-bahan seperti botol kaca, botol kaleng, kayu, sumbu, dan minyak solar. Tahun ini, panitia membuat gambar masjid yang memerlukan sekitar 3.000 botol. Namun, Maulana mengungkapkan tantangan dalam pengadaan bahan, terutama kayu yang harus dipesan dari tempat yang jauh.

“Mencari kayu menjadi tantangan utama karena sulit didapat di sini,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan festival ini memberikan semangat tambahan bagi panitia.

“Cuaca juga menjadi tantangan besar bagi kami,” tambahnya.

Dana yang dihabiskan untuk pembuatan lampu colok tahun ini mencapai Rp16 juta, yang diperoleh dari sumbangan masyarakat setempat dan para petinggi yang tinggal di desa tersebut.

Maulana berharap agar tradisi lampu colok dapat terus dilestarikan di masa mendatang, sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga.

Tradisi Lampu Colok di Riau

Riau dikenal sebagai daerah yang kaya akan tradisi budaya Melayu, termasuk tradisi yang masih lestari hingga kini, yaitu penggunaan lampu colok atau yang dalam bahasa Melayu disebut "pelite" atau "pelito". Tradisi menyalakan lampu colok menjadi ciri khas perayaan malam terakhir Ramadan hingga malam takbiran.

Lampu colok, yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar, biasanya terbuat dari bambu, kaleng, atau botol bekas minuman yang diisi dengan minyak tanah dan dilengkapi dengan sumbu di tengahnya. Lampu ini tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga memiliki makna dan romansa tersendiri bagi masyarakat Melayu di Riau.

Untuk melestarikan budaya lampu colok, pemerintah daerah bersama masyarakat setempat menyelenggarakan Festival Lampu Colok, yang menjadi bagian dari warisan budaya yang masih bertahan hingga kini dan menjadi agenda wisata penting bagi daerah tersebut. Festival ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk merayakan dan menghormati tradisi mereka.

Sejarah lampu colok di masyarakat Melayu Riau sangat panjang. Pada masa lalu, lampu colok dipakai sebagai alat penerangan yang diletakkan di depan pintu rumah. Lampu ini juga bermanfaat bagi anak-anak yang pergi mengaji atau belajar di malam hari, serta bagi para nelayan yang akan melaut. Hingga saat ini, kecuali pada tahun 2020 dan 2021 akibat pandemi, anak-anak yang mengaji di masjid akan berkeliling kampung membawa lampu colok dalam sebuah pawai pada malam takbiran.

Menjelang akhir bulan Ramadan, masyarakat Melayu Riau menggunakan lampu colok sebagai hiasan di depan rumah mereka, terutama dalam menyambut malam Lailatul Qadar, yang puncaknya adalah menyalakan lampu colok di seluruh pelosok kampung pada malam ke-27 Ramadan. Tradisi ini juga diwarnai oleh cerita turun-temurun yang menyatakan bahwa lampu colok dahulu berfungsi sebagai penerangan jalan bagi masyarakat yang ingin membayar zakat fitrah setiap malam ke-27 Ramadan.

Tradisi lampu colok di Riau bukan hanya sekadar ritual, tetapi merupakan bagian integral dari identitas budaya Melayu yang berharga. Dengan festival ini, harapan untuk melestarikan dan menghormati tradisi ini tetap terjaga, sekaligus menarik perhatian pengunjung untuk mengenal lebih dalam budaya lokal.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close