Breaking News

Festival Adat Tiu Desa Jantuk Warnai Perayaan Idul Fitri

Festival Adat Tiu Desa Jantuk Warnai Perayaan Idul Fitri
Sambangdesa.com / Lombok Timur - Warga Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menggelar acara adat Tiu (menunggang kuda) dalam rangka merayakan Idul Fitri 1446 Hijriah. Perayaan ini diadakan pada Selasa (24/2025), dan dihadiri oleh ratusan warga serta ribuan penonton.

“Ada 280 ekor kuda yang ikut memeriahkan adat Tiu pada Lebaran tahun ini,” kata Athar, salah satu warga desa.

Ia menjelaskan bahwa kuda yang terlibat dalam kegiatan ini bukan sembarang kuda; beberapa di antaranya didatangkan dari luar daerah dan disewa khusus untuk mengikuti acara tersebut. Selain itu, ada juga kuda milik warga yang digunakan dalam perayaan.

Kegiatan menunggang kuda ini berlangsung sepanjang hari, dimulai dari pagi hingga malam, dan menjadi tradisi turun-temurun bagi masyarakat Desa Jantuk.

“Kegiatan ini digunakan sebagai ajang silaturahmi antarsanak dan warga sekitar,” tambah Athar.

Lokasi pelaksanaan acara memanfaatkan fasilitas jalan desa, yang dipadati oleh penonton.

Sebelum menunggang kuda, warga berkumpul untuk bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dalam suasana Idul Fitri. Kegiatan ini juga mendapat pengamanan dari aparat kepolisian setempat.

Kapolsek Sukamulia, AKP Fathurrahman, menyatakan, “Kami salut dengan masyarakat Jantuk yang turut mengamankan kegiatan adat Tiu ini.”

Sementara itu, Pemerintah Kota Mataram juga mempersiapkan perayaan Lebaran Topat atau Ketupat 1446 Hijriah/2025, yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri.

Acara ini dijadwalkan berlangsung pada Senin (7/4/2025), di dua lokasi makam keramat di kota tersebut: Makam Bintaro di Kecamatan Ampenan dan Makam Loang Baloq di Kecamatan Sekarbela.

Wali Kota Mataram, H Mohan Roliskana, mengungkapkan, “Tahun ini, kami tetap menggelar perayaan Lebaran Ketupat, dan penanggung jawab kegiatan ada di masing-masing camat.” Hikmah dari perayaan ini adalah upaya menjaga silaturahmi antarumat Muslim, serta antaragama dan lintas budaya.

Lebaran Ketupat juga dirangkaikan dengan kegiatan ziarah makam para ulama, selakaran, zikir, dan doa kepada Allah SWT. Rangkaian terakhir dari perayaan adalah “begibung”, atau makan bersama antara tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum yang hadir.

Wali Kota Mataram menambahkan, “Apa yang telah diwariskan oleh ulama dan leluhur harus kita tanamkan dan ikuti, termasuk menjaga ikatan silaturahmi dan nilai-nilai syariat Agama Islam.” Namun, ia juga mengimbau masyarakat untuk merayakan Lebaran Ketupat dengan penuh tanggung jawab dan tidak berlebihan.

Kawasan pantai di Mataram menjadi titik paling ramai pengunjung selama perayaan Lebaran Ketupat, termasuk Pantai Gading, Mapak Indah, Loang Baloq, Tanjung Karang, Pantai Ampenan, Pantai Pura Segare, Bintaro, dan Pantai Meninting.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close