Breaking News

Tunjangan Hari Raya: Tradisi Berbagi di Idulfitri

Sambangdesa.com - Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi salah satu aspek yang identik dengan perayaan Hari Raya Idulfitri di Indonesia. Tradisi ini tak hanya melibatkan pemberian uang, tetapi juga mencakup kebiasaan menukar uang lama menjadi uang baru sebelum dibagikan kepada kerabat dan keluarga.

Asal Usul dan Makna THR

Djoko Adi Prasetyo, pakar antropologi dari Universitas Airlangga, Surabaya, memberikan wawasan mengenai asal usul dan perkembangan tradisi THR di Indonesia.

THR merupakan tradisi memberikan uang baru sebagai bentuk apresiasi dan kasih sayang, terutama kepada anak-anak dan anggota keluarga.

Tradisi ini sudah ada sejak era Kerajaan Mataram Islam, pada abad ke-16 hingga ke-18, dan secara resmi muncul kembali pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo.

THR menjadi bagian dari budaya perayaan Idul fitri di seluruh Indonesia, dengan peningkatan layanan penukaran uang baru menjelang hari raya.

Pemberian THR sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan menyelesaikan ibadah puasa dan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota keluarga.

Tradisi ini memperoleh bentuk modern dengan munculnya penggunaan uang elektronik dalam proses berbagi THR.

Djoko menjelaskan, “Beberapa catatan sejarah menunjukkan bahwa pada masa Kerajaan Mataram Islam, para raja dan bangsawan memberikan uang baru kepada anak-anak pengikutnya saat Idu lfitri. Ini merupakan ungkapan rasa syukur atas keberhasilan mereka dalam menjalani ibadah puasa,” katanya dalam sebuah wawancara pada Jumat, 5 April 2024, yang dikutip oleh Antara.

Evolusi Tradisi THR

Budaya THR di Indonesia pertama kali diadopsi pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan aparatur negara. Hingga saat ini, tradisi memberikan uang baru sebagai simbol kasih sayang dan persaudaraan antar anggota keluarga masih dipertahankan oleh masyarakat.

Di era modern, terjadi perubahan signifikan dalam cara berbagi THR. Menurut Djoko, penggunaan uang elektronik sebagai alternatif untuk memberikan THR tidak mengurangi makna dari tradisi tersebut.

“Meskipun dibayar dengan uang elektronik, THR tetap memiliki makna yang sama, yaitu sebagai simbol kebersihan, ucapan terima kasih, rasa hormat, dan rasa bangga karena dapat berbagi,” jelasnya.

Budaya memberikan THR di Indonesia menunjukkan kekayaan tradisi yang terus berkembang. Djoko menekankan, “Selama masyarakat pendukungnya masih ada, budaya ini akan tetap lestari. Namun, jika dukungan terhadap budaya ini menghilang, maka tradisi tersebut berisiko terkikis dan bahkan punah.” Dengan demikian, THR tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga simbol kehangatan dan kebersamaan dalam merayakan Idul fitri.

Advertisement

Type and hit Enter to search

Close