Acara yang berlangsung di Jalan Gelora Bunga, Sidomulyo, Kota Batu ini dihadiri oleh sejumlah kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan), dan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) dari beberapa kecamatan di Malang Raya. Para peserta, termasuk dari Gapoktan Sacha Inchi Senduro, Poktan Sachi Pujon, Poktan Sachi Jabung, dan Poktan Sachi Poncokusumo, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap program ini. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Pengusaha dan Profesional Nahdliyin (P2N) Jawa Tengah.
Dalam sesi sosialisasi, Ketua Asosiasi Sacha Inchi 129, Gus Latif, menjelaskan bahwa Sacha Inchi, yang juga dikenal sebagai kacang bintang, merupakan tanaman dengan kandungan nutrisi yang melimpah, seperti Omega-3, Omega-6, Omega-9, protein, serat, dan vitamin E. Tanaman ini awalnya ditemukan di hutan tropis Amazon dan dataran tinggi Peru, tetapi kini mulai dikembangkan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Gus Latif, Sacha Inchi memiliki potensi besar untuk mendukung program nasional ketahanan pangan, zero stunting, dan pangan sehat, yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Kandungan kaya nutrisi dalam Sacha Inchi menjadikannya sangat relevan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama dalam mencegah stunting," ujarnya.
Selain sosialisasi Sacha Inchi, acara ini juga menjadi momentum launching Pondok Pesantren Alam Nusantara 129 (PAN 129). Pondok pesantren yang dikelola oleh Taufik Abdul Rouf ini memiliki pendekatan unik, menggabungkan pendidikan agama dengan laboratorium alam bidang pertanian dan kewirausahaan.
PAN 129 juga berperan sebagai pusat edukasi untuk pembuatan produk turunan dari Sacha Inchi. Para santri diajarkan ilmu dan praktik pertanian modern, termasuk pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
"Kami berharap pesantren ini bisa menjadi contoh model pendidikan berbasis alam dan kewirausahaan yang mendukung ketahanan pangan," ujar Taufik.
Acara ini mencerminkan upaya sinergi antara sektor pendidikan, pertanian, dan kesehatan untuk mendukung agenda pembangunan nasional. Dengan memanfaatkan potensi besar Sacha Inchi, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Untuk diketahui, Sacha Inchi memiliki sejumlah Keunggulan Ekonomi dan Peluang Bisnis. Selain manfaat kesehatan, Sacha Inchi menawarkan nilai ekonomi yang tinggi.
Gus Latif menyebutkan beberapa keunggulan budidaya tanaman ini, seperti Mudah dibudidayakan, Sacha Inchi bisa Tumbuh di semua jenis lahan, termasuk lahan kering atau pasca eksplorasi. Keunggulan lainnya adalah hasil panen berkelanjutan. Sacha Inchi memiliki siklus panen mingguan setelah 9 bulan masa tanam dan dapat bertahan hingga 30–40 tahun. Sacha Inchi juga memiliki produk turunan yang beragam. Sacha Inchi dapat diolah menjadi minyak sehat (pengganti minyak ikan salmon dan minyak zaitun), snack, susu, kosmetik, hingga obat herbal.
"Tanaman ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dapat menjadi solusi ekonomi yang berkelanjutan bagi petani," tambah gus Latif.
Menurutnya, dari sisi kesehatan Sacha Inchi memiliki manfaat bagi kesehatan yang bisa diandalkan seperti Meningkatkan fungsi otak, Menjaga kesehatan jantung, Mengelola kesehatan mental, dan Menyeimbangkan kadar gula darah. Sehingga menjadikan Sacha Inchi sebagai salah satu tanaman potensial untuk mendukung gaya hidup sehat.
"Tanaman ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga dapat menjadi solusi ekonomi yang berkelanjutan bagi petani," tambah gus Latif.
Menurutnya, dari sisi kesehatan Sacha Inchi memiliki manfaat bagi kesehatan yang bisa diandalkan seperti Meningkatkan fungsi otak, Menjaga kesehatan jantung, Mengelola kesehatan mental, dan Menyeimbangkan kadar gula darah. Sehingga menjadikan Sacha Inchi sebagai salah satu tanaman potensial untuk mendukung gaya hidup sehat.
Social Footer