Sambangdesa.com / Demak - Nama Pasijah, akrab disapa Mak Jah (56), kembali mencuri perhatian setelah aktivitas sehari-harinya viral di media sosial. Ia adalah satu-satunya warga yang masih bertahan di Dukuh Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Dalam kondisi yang semakin sulit akibat abrasi dan banjir rob, Mak Jah memilih untuk tetap tinggal di kampung yang hampir tenggelam ini.
Dahulu, kampung ini dihuni ratusan kepala keluarga. Namun, bencana alam yang terus menerus memaksa sebagian besar warga untuk pindah ke lokasi relokasi. Sejak tahun 2000, Mak Jah aktif menanam mangrove sebagai benteng alami untuk melindungi tempat tinggalnya dari terjangan ombak laut.
Akses menuju Dukuh Rejosari Senik semakin sulit, sehingga redaksi belum dapat bertemu langsung dengan Mak Jah. Namun, Kepala Desa Bedono, Agus Salim, mengonfirmasi bahwa Mak Jah masih tinggal di sana bersama suaminya, Rokani (61), dan kedua anaknya. Mak Jah memiliki tiga anak, di mana anak pertamanya sudah menikah dan tinggal di Kecamatan Karangtengah, sedangkan dua anak lainnya masih tinggal bersamanya, termasuk satu yang menempuh pendidikan di Semarang.
Agus menjelaskan bahwa faktor ekonomi menjadi alasan utama Mak Jah tetap bertahan di kampung ini.
"Mata pencaharian sehari-hari mereka berasal dari hasil tangkapan ikan, sehingga sulit bagi mereka untuk pindah ke tempat lain," ujarnya pada Sabtu, (293/2025).
Mak Jah menolak relokasi karena rumahnya adalah sumber penghidupan keluarganya.
"Ia merasa keberatan jika harus direlokasi ke tempat yang jauh dari sumber mata pencahariannya," kata Agus.
Selain itu, untuk pindah ke tempat baru, seseorang harus menyediakan lahan dan membangun rumah sendiri, yang menjadi kendala bagi keluarga Mak Jah.
Mak Jah berharap bahwa kampung ini dapat hidup kembali setelah pembangunan Tol Semarang-Demak Seksi 1 rampung.
"Harapannya, jalan provinsi yang melintas di kawasan ini bisa dibangun kembali agar kampungnya kembali berjaya," jelas Agus.
Abrasi di Desa Bedono terjadi sejak tahun 1996, menenggelamkan beberapa dukuh, termasuk Rejosari Senik dan Tambaksari. Pada tahun 1999, sebanyak 65 kepala keluarga dari Dusun Tambaksari direlokasi, diikuti dengan 201 kepala keluarga dari Dusun Rejosari Senik pada tahun 2006. Hingga tahun 2022, Dukuh Mondoliko juga mengalami relokasi ke Desa Dombo.
Agus mengungkapkan bahwa meski ia telah berulang kali membujuk Mak Jah untuk pindah, ia selalu gagal karena Mak Jah yakin kampungnya akan hidup kembali. "Ia tetap yakin bahwa setelah pembangunan jalan tol, jalan provinsi dapat dihidupkan kembali," tutup Agus.
Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Demak tahun 2000 menunjukkan bahwa abrasi di Desa Bedono telah mencapai 684 hektare. Meskipun sebagian besar wilayah Desa Bedono tenggelam, beberapa pedukuhan masih dihuni, salah satunya Dukuh Bedono. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Sayidi, mengungkapkan bahwa wilayah ini masih layak huni karena memiliki tutupan vegetasi mangrove yang cukup baik.
"Sebagian Dukuh Bedono masih bisa dihuni karena dilindungi oleh mangrove. Data tahun 2023 mencatat sekitar 236 kepala keluarga masih bertahan di sini dari total 600 kepala keluarga yang pernah tinggal di Dukuh Bedono," ujar Sayidi pada Rabu, 9 Agustus 2023.
Namun, gelombang pasang yang terus menerjang menyebabkan kerusakan hutan mangrove, tambak warga, serta pemukiman yang semakin terkikis. Sayidi sendiri telah memiliki rumah di Demak kota yang lebih aman, tetapi ia masih sering mengunjungi rumah lamanya di Dukuh Bedono saat air laut surut untuk beristirahat dan memetik mangrove yang dimanfaatkan sebagai bahan baku produk UMKM.
Kisah Mak Jah dan Dukuh Rejosari Senik mencerminkan ketahanan dan harapan masyarakat yang berjuang meski dihadapkan pada tantangan lingkungan yang berat. Dengan keberadaan mereka, harapan akan masa depan yang lebih baik tetap hidup di tengah ancaman perubahan iklim dan bencana alam.
Social Footer